Nyoblos kemarin pilih siapa


Ini bukan merupakan tulisan deep analysis nan boring mengenai pemilu saat ini. Baca jika ingin melihat gambaran sekilas profil keadaan saat ini.

Kemarin baru saja kita bersama mencoblos calon legislatif untuk periode jabatan 2014-2019. Momen yang penting untuk 5 tahun kehidupan negeri kita ke depannya. Banyak sekali yang menulis tentang pemilu, tidak afdhol jika ga ikutan ngomongin juga. Hehe. Tahun ini tahun coblos. Akan ada dua kali pemilihan satu pemilihan caleg yang telah kita lakukan 9 april lalu dan akan ada lagi pemilihan presiden langsung kira-kira bulan juli agustus. Walau belum jelas presiden yang akan maju siapa tapi sudah dari tahun lalu gaung-gaungnya disebar. Paling tidak ada 8 capres yang sudah membulatkan niatnya untuk mengabdi jadi abdi rakyat. Aburizal Bakrie, Surya Paloh, Prabowo, Jokowi, Mahfud MD, Anis Matta, Wiranto, dan Hatta Rajasa. Dilihat dari hasil kemarin dimana tidak ada partai yang mencapai 20% suara rakyat langsung, sehingga praktis tidak boleh ada capres langsung dari satu partai maka dipastikan akan adanya koalisi. Koalisi ini semacam kolaborasi atau kerjasama antar dua atau lebih partai dalam mengusung pemilu yang akhirnya akan berujung pada kerjasama dalam masa pemerintahan. Kerjasama ini diterjemahkan menjadi bentuk partisipasi partai dalam kursi jabatan 5 tahun ke depan. Sederhananya kalau saya dari PKPI sepakat koalisis dengan Gerindra, maka kami berdua mengusung calon presiden dari partai kami beserta jajaran pemerintahan yang komposisi pejabatnya dari kedua partai kami. Biasanya banyak sedikitnya dilihat dari bobot % kemenangan di pencoblosan 9 april kemarin. PKPI (0.95%) dan Gerindra (11.77%) akan menghasilkan 1 pejabat dari PKPI dan 11 pejabat dari Gerindra.

Dilihat dari hasil kemarin, yang memenangkan 2 partai besar, atau 3 membuat banyak spekulasi dan argumentasi. Yang menarik adalah setinggi-tingginya persentase menang partai kemarin (19.24%) masih lebih banyak persentase golputnya (29 sekian persen). Apa jangan- jangan Anda juga golput? Saya bukan orang yang pembenci golput. Menurut saya golput pun merupakan pilihan. Namun seperti pilihan lainnya, selalu dilandaskan dengan pertanggungjawaban. Ga masalah golput asal alasannya bisa dipegang. Karena pada dasarnya setiap orang akan diminta pertanggungjawaban atas apa yang mereka lakukan. Mau golput mau milih mau cuek gamau tau semua ada nilainya. Saya sendiri memilih tidak golput kemarin. Alasannya saya ingin turut serta memenangkan partai (karena banyak caleg yang saya tidak kenal) yang saya rasa masih banyak kekuatan baik (good willing) di dalamnya. Saat partai itu menang insyaallah saya lebih percaya akan kinerja pemerintah karena orang-orangnya jujur dan cerdas.

Saya ikut sebuah grup kecil ekskul (extrakulikuler) di sma saya dulu. Orang-orang dalam grup wasap ini sangat aktif berdiskusi sampai saat ini. Hiduplah grupnya. Banyak memberikan informasi yang informatif dan berguna. Dekat-dekat ini (lagi-lagi karena pemilu) grup berubah menjadi grup pemilu, kalau tidak mau dibilang grup PKS. Semua isinya mengenai partai tersebut. Tidak aneh karena memang anggotanya homogen dominan memilih partai yang sama. Saya pun tidak masalah dalam mendengar info-infonya, karena saya lihat  diskusi yang dilakukan itu ilmu yang berguna. Masuk logika. Belakangan banyak yang mendiskusikan untuk tidak memlilih salah satu partai karena di dalamnya terdapat muslim-muslim yang tidak mengikuti syariah, menyimpang. Syiah. Celakanya muslim-muslim itu berada menjadi backing partai yang paling besar saat ini. Sebagaimana prinsip citasi. Tidak boleh mengambil kesimpulan hanya dari satu sumber, saya pun tidak begitu langsung percaya jika hanya dari satu sumber. Dan ternyata. Tidak tahukah apakah alam semesta berbicara atau entah strategi partai teman-teman saya yang massive, baik di grup, di masjid kantor, maupun di  beberapa masjid-masjid lainnya semua menyuarakan hal yang sama. Menarik.

Terlepas dari itu semua, saya tidak tahu apakah ustad di masjid sudah dicemari oleh kepentingan partai tertentu atau memang ini merupakan murni memperjuangkan amanah agama, wallahualam. Saya sendiri masih berpegang pada keyakinan saya, jangan mengambil keputusan tanpa ilmu. Dan jangan karena tidak tahu kita asik santai dan bersembunyi untuk tidak mencari tahu. Apapun itu saya masih memilih partai islam dalam membangun bangsa ini. Karena saya yakin, Islam memberikan kedamaian bagi manusia, bukan ancaman dan kesengsaraan. Kalau Anda pemilu kemarin nyoblos siapa?

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s