Geodesi Untuk Negeri, media pemersatu bangsa yang berhasil?


Geodesi sebagai dasar ilmu perpetaan memiliki peranan penting dalam pembangunan. Kalau anda seorang geodet pasti tau benar bahwa geodesi merupakan cabang ilmu yang memilki fungsi supporting system. Dia membantu disiplin lain untuk melaksanakan tujuannya dengan baik. Geodesi menyokong kebutuhan dari disiplin ilmu lainnya. Contohnya, saat planner menyusun sebuah rencana aksi 5 tahunan pemerintah daerah maka hal yang paling penting adalah peta. Peta sebagai panduan yang menuntun apa yang mau dibangun, siapa yang mau dibangun, dan dimana pembangunan akan terjadi. Begitu pula saat geologist atau civilist akan melakukan pekerjaannya, tidak lepas dari pentingnya peta.  Jangankan profesi teknik, masyarakan umum butuh peta sebagai media eksistansi diri. Sedang dimana, lagi apa dan mau kemana. Hal ini pernah saya bahas di artikel Menampilkan Google Maps dalam Media Online.

Ina-Geoportal, Ina - SDI

Dari sedikit gambaran tadi, kita tahu pentingnya akan peta.  Di sisi yang lain, lembaga official Indonesia akan peredaran peta BIG (former BAKOSURTANAL) telah mengembangkan sebuah portal online dalam mengakses peta yang dapat digunakan oleh seluruh warga Indonesia baik untuk keperluan teknis, penelitian, maupun edukasi. Dalam Ina – SDI (Spatial Data Infrastructure) peta dapat dilihat, dipakai hingga dianalisis  secara live di portal tersebut. Media ini merupakan web apps. Sangat cerdas saya pun setuju bahwa tools sekarang sudah harus dimasukkan ke dalam media masal atau yang biasa diistilahkan online. Portal ini bertujuan mulia yaitu agar terciptanya kemudahan dan kepaduan data spasial di setiap lembaga di Indonesia. Tapi seberapa berhasilnya portal ini? perlu kita kaji.

Saya sudah cukup lama mempelajari Ina-SDI dari sejak di bangku kuliah. Ina-SDI mulai dibangun sejak 2003 sehingga kini memasuki umurnya yang ke-10 tahun. Dari sejarahnya nama Ina-SDI kerap berganti setiap masa. Sebenarnya istilah Ina-SDI sudah usang, mungkin booming di tahun 2008-2010 namun kini berganti sebutan menjadi ‘Geospasial Untuk Negeri’ (GUN?). Sebelum itu pun terjadi perubahan nama 2 sampai 3 kali. Sedikit komentar tentang namanya mengapa harus dinamakan Ina-SDI. Spatial Data Infrastructure? Who care. Apabila kita membuat suatu teknologi, kita harus tahu untuk apa teknologi itu diciptakan dan untuk siapa. Saya percaya bahwa teknologi diciptakan untuk memudahkan hidup manusia bukan mempersulit. Siapa yang tahu SDI, geek akademisi dan teknisi? Kalau tujuannya untuk Indonesia gunakan untuk masyarakan luas. Cari nama yang lebih umum namun menggambarkan. Nama-nama teknis biar kita saja yang tahu sebagai bahan dasar dapur kita.

Memang nama  berpengaruh sekali karena kekuatan branding dalam mencitrakan sesuatu, namun menurut saya selain nama yang harus selalu berubah maju, kualtias dan usability sistemnya pun harus berubah maju.

Portal ini tidak hanya sekedar ‘web’ tok. Ini merupakan sistem. Sistem yang terdiri dari minimal 6 fundamental factors yang terhubung satu dan lainnya tak terpisahkan. Tiga diantaranya; Pemegang Kebijakan, Dokumentasi , dan Teknologi. Teknologi hanya satu bidang diantara ke 6 lainnya sehingga untuk mensukseskan program ini diperlukan dukungan semua pihak.

Kebetulan saya pernah presentasi mengenai sistem Ina-SDI pada tahun 2012 lalu, kamu bisa download disini dan ikut mengkritisi secara konstuktif. Dengan pertanyaan besar, Seberapa berhasilnya portal ini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s