Secara kebetulan setengah hari ini saya mendapatkan sedikit pelajaran yang membuat saya berpikir. Ya, lagi lagi berpikir. Seperti yang filsuf tua katakan, karena berpikir kita hidup. Apa ga kebalik ya, karena hidup kita berpikir. Ya, memang filsuf filsuf tua itu dalam sekali menggali kehidupan. Jelas kalah pemikiran dankal seorang pengkaji pengkaji kelas himpunan ini.

‘Ini, ini, saran aja buat wasil nanti. Gabisa kalau dinanti nanti, rumah itu ga akan kekejar. Memang harus nekat’, ucap salah satu bapak. Ya, itu sedikit cuplikan obrolan sore saat membicarakan domisili kita. ‘Ga bisa sil kalau ngandalin ke depan, nunggu naik gaji, dan lain lain. Kita harus punya strategi, kaya teman saya, dia nekat aja beli tanah di Solo, 30 juta, jelek tananhnya, sawah sawah jalan cuma dilewatin motor. Eh, baru 3 tahun ada yang nawar tanahnya, jatuh jatuhnya 90 juta. Bagus juga strategi dia, yaa untuk nambah nambahin kredit rumahnya kan bisa’ jelas Pa Yudo dengan semangat. Beliau mahasiswa yang sedang mengambil program doktor, beliau tinggal di Semarang, tepatnya komplek dosen di daerah UNDIP, beliau pun mengajar disana.

Cerita eh cerita, tidak cukuplah kita bekerja sesuai keprofesian kita, harus ditambah dengan usaha lain, saran beliau. Saran yang tepat, karena memang itu juga cita saya dari dulu. ‘Usaha sil, saya ingin jadi pengusaha lah’. Wah sama banget pa. Pesan itu cocok sekali dan menambah kuat keinginan saya dari dulu. “Loh, kenapa dia nyaranin kaya gitu ya? Ko bisa sama ama unek2 urang. Wah, ini kenapa. Wah, ga mungkin. Ga mungkin ada yang ga sengaja. Ini pasti sengaja. Sengaja Allah bisikin ni. Ini pasti ada sesuatu ini’.

Pulanglah saya pada waktu yang sudah ditetapkan. Tidak jauh dari gedung itu, bersapaan lah kawan lama. Dia kawan sma yang kebetulan sama mengambil program master. ‘Wih, kumaha maneh ey, geus sidang?’ , sapaan intimidasi, lagi lagi. ‘Wah iya nih, kuduna sidang teh paling lambat jumat ini ey’, *cepet pissan*, tapi urang ada kesempatan untuk senen ini sil’, ‘Kacaw urang ey ditolak 2 kali dalam seminggu’. Obrolan teman lama tentang kesibukan hariannya. Hingga akhirnya, ‘Maneh kumaha, mau kmana nih habis ini. Kerja?’, ‘Urang mau lanjut s3 ey, urang liat temen temen, yaa yang kerja lapangan di lapangan wae, di kantror di kantor wee’. Yak, satu orang telah berkomitmen menjadi dosen di elektro. Unik sebenarnya. Alasan dia untuk tidak kerja adalah kebebasan waktu. Dia ingin fleksibel terhadap waktu yang bisa digunakan untuk hal lain, usaha, bekerja yang lain. Yang mana sama banget dengan saya! Time Freedom. Itu cita cita saya banget. Dimana kita bisa bebas dengan waktu kita. Bukan bebas bisa bersantai kapanpun, tapi bebas mengatur mau ngapain, mau kemana, mau jadi apa. INI surga banget.

Dua chitchat itu, membuka pikiran saya kembali akan harapan. Apa yang harus saya pilih. Apa yang harus saya jalani. Because life is just about choices.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s