Mengejar Pimpinan Alternatif


Banyak tokoh jaman sekarang berpendapat bahwa kita sedang mengalami krisis kepemimpinan. Sosok pemimpin yang bertugas menjadi pemberi petunjuk, penuntun, penggagas, dan pendorong tidak lagi terlihat.  Tidak di daerah-daerah maupun di pusat semua sedang krisis. Tidak habis ocehan negeri autopilot tetap menjadi obrolan teratas lebih dari dua pekan di kalangan warung kopi.

Saya sedikit berpikir, krisis kepemimpinan kaya apa sih, apa tidak ada sosok tokoh teladan lagi yang bisa dijadikan teladan lagi kini, pemimpin semacam apa sih yang dibutuhkan sekarang.

Di dalam suatu tulisan, Ahmad Juwaini berpendapat bahwa generasi tua telah mewariskan sosok kepemimpinan yang monoton. Kepemimpinan generasi tua telah menampilkan wajah kepemimpinan yang menjemukan yang ditandai oleh pola tertutup, otoriter, feodal, formalistik, simbolik, lamban, dan koruptif. Ahmad pun menjelaskan pola kepemimpinan yang diwariskan generasi tua ini membuat bangsa terus berkubang masalah.

Apabila dilihat lebih dekat, apakah oleh-oleh generasi tua itu memang warisan dari mereka, atau apakah itu sudah menjadi sifat lahiriah seorang manusia. Sifat otoriter, feodal, simbolik, lamban merupakan sifat yang dimiliki setiap orang walaupun kadar yang dimilikinya berbeda. Dari dulu masyarakat memang sudah membutuhkan sosok pemimpin yang berorientasi pada rakyat, yang tangkas, bersih, dan humanis dan dari dulu pula sosok seperti itu sudah ada. Namun sama seperti yang terjadi saat ini, di zaman dulu pun sosok prontagonis selalu dikalahkan oleh ketenaran sosok antagonis.

Bukan generasi tua yang menjadi sumber masalah krisis kepemimpinan yang terjadi sekarang, melainkan generasi muda yang belum cukup kuat untuk berjalan dalam badai keterburukan.

Pola yang bertendensi negatif hanya merupakan sekumpulan efek buruk dari ketidakberhasilan kita dalam menghadapi masa depan. Masa depan datang dengan arus yang sangat deras, memasuki setiap sendi kehidupan dan celahnya kebudayaan. Akhlak setiap orang yang tidak kuat dapat tergores habis.

Tentunya kita tidak ingin hanya menyalahkan generasi tua akan krisis kepemimpinan ini. Sedari dulu sudah jelas pakem yang telah ada, “jangan lihat orang lain atas masalah yang terjadi, lihatlah diri sendiri lebih dulu”.  Mungkin krisis ini tidak terlepas dari kealpaan kita generasi muda dalam menyambut derasnya permasalahan bangsa. Kita pun harus akui itu sehingga dapat diinteropeksi dan menjadi pelajaran ke depan.

Jadi, pemimpin seperti apa yang kita butuhkan untuk zaman ini?
Yang pasti kita butuh seorang yang tidak hanya menjadi pimpinan namun juga menjadi pemimpin. Sudah habis masanya untuk berkecimpung dengan masalahnya dan bergerak maju membawa hawa kepemimpinan baru yang menyegarkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s