Tersenyum kalau di Jalan


Sempat terpikirkan bagaimana setiap orang melakukan aktivitasnya setiap hari secara berulang. Siswa siswi pergi ke sekolah setiap hari, mahasiswa pergi kuliah dengan motor/ mobilnya setiap hari, Pak pos mengatarkan surat melalui jalan yang sama setiap hari, Pak polisi mengamankan persimpangan yang sama setiap hari, dan saya yang melihat komputer yang sama setiap hari. Serupa dan rutin.

Kalau dIlihat sekilas si mungkin biasa-biasa aja, tapi coba dilihat sedikit lebih dekat, ketika kita pergi untuk melakukan rutinitas harian kita, kanan dan kiri kita, apakah mereka sadar mereka telah melakukan hal yang sama dengan hari sebelumnya, mereka menaiki kendaraan yang sama, melewati jalan yang sama, menunggu lampu merah yang sama, bergumam hal yang sama, bahkan mencaci dunia dengan hal yang sama dan di tempat yang sama dengan hari sebelumnya,  hari sebelum sebelumnya dan hari sebelum sebelum sebelumnya.

macet_ph

 

Apakah kita menyadari bahwa kita pun masuk di dalamnya?

Semua orang berpikir. Mereka  melakukan kegiatan dengan kesadaran akan tugas dan tanggungjawabnya, baik itu sebagai pelajar, pegawai, atau manager. Semua bergerak berdasarkan tujuannya masing-masing dengan tetap diiringi masalah masing-masing. Saat saya berjalan di suatu pagi saat rush hour, yang biasanya merupakan jam saya ke kampus, saya melihat sekitar. Adek-adek yang sigap tancap gas di sisi kanan, di sisi kiri bapak dan anak yang sibuk mengejar bel kantor masing-masing, dan di depan mas-mas kantoran yang siap bekerja. Semua sibuk. Pemandangan yang penuh dengan kesiap siagaan, dan mungkin biasa karena hari lainnya pun tidak berbeda. Namun ada yang salah disini. Wajah mereka semua kusam. Terlipat.

Terus saya melihat kanan dan kiri sepanjang perjalanan saya menuju atm terdekat tapi tetap sulit untuk menemukan wajah ceria di pagi itu. Saya mulai berpikir, apa semua orang sedang bete ya hari ini, apa karena cuaca hari ini tidak begitu baik, atau apa setiap hari memang seperti ini, kusut.

Sesampai di atm dan pulang kembali ke rumah ternyata sulit mendapatkan teman ceria pagi itu. Semua orang melipat mukanya apabila sudah masuk di jalan, seakan jalan merupakan medan perang untuk menerobos hambatan-hambatan agar sampai di tujuan dengan cepat dan singkat. Terang aja begitu mudah pemakai jalan †ersulut emosinya apabila sedang mengemudi. Ingin tidak telat di jalan walau sudah telat sebelum di jalan, bercanda.

Ya apapun itu, kita semua dapat mengambil pelajaran. Persiapan yang baik merupakan kunci utama. Jangan telat pergi, siapkan waktu untuk dijalan, tidak memaksakan kehendak, dan pastikan berdoa walau sebentar agar mood menjadi lebih baik. Pengguna jalan yang baik yang memberi kesempatan kepada pengguna jalan lainnya, dan tersenyum.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s