Tantangan Bencana ; Bukan Sekedar Teknis Belaka


Bencana, khususnya yang disebabkan oleh faktor alam, bukan merupakan ancaman utama bagi manusia. Tanpa mengesampingkan potensi besar yang disebabkan gempa, wabah epidemi dan kelaparan berdampak jauh lebih besar dalam memperpendek hidup manusia, selain itu peristiwa-peristiwa yang tidak disangka seperti konflik kekerasan, penyakit, dan kelaparan sangat berpengaruh besar dalam mengurangi jumlah manusia khususnya di negara-negara yang kurang berkembang.

Umumnya, gempa bumi dan banjir memakan korban seratus dari seribu jiwa, namun kelaparan dan wabah penyakit dapat memakan korban sejuta korban dalam sekejap. Begitulah peristiwa bencana yang diakibatkan oleh faktor alami memakan banyak jiwa, namun bagi masyarakat yang berada dalam keadan politik dan ekonomi yang baik akan hidup lebih lama dan menikmati kehidupan yang layak.

Di negara kita, bencana didefinisikan sebagai;

adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. (UU No.24 Tahun 2007)

Sudah sangat cukup baik, dimana bencana dipandang sebagai persitiwa yang sumbernya tidak hanya berasal dari alam dan fokus utamanya adalah pada manusia. Manusia tergannggu, terancam, terugikan.

Ilmuwan eropa, mendefinisikan bencana ;

Disasters are non-routine events in societies or their larger subsystems (e.g., regions and communities) that involve conjunctions of physical conditions with social definitions of human harm and social disruption. (Kreps, 2001:3718)

Yang menarik disini adalh, Kreps mengungkapan “Bencana bukanlah peristiwa rutin”. Sebagai contoh seringkali terjadi banjir di Jakarta yang telah menjadi rutinitas tahunan. “Setiap awal tahun, 2 bulan lamanya, akan banjir, maka akan disediakan bantuan makanan dari pemerintah”, pikiran tersebut yang tersirat dibenak penduduk Jakarta sekarang. Apabila Bencana sudah bukan lagi peristiwa yang unik, maka itu bukan lagi disebut bencana. Hal tersebut merupakan petaka yang dibiarkan berulang.

Berikut data statistik bencana dan kontribusi kematian yang dihasilkan

Apabila kita analisis lebih dalam, bencana sendiri membuktikan bahwa bencana tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Untuk mengetahui seberapa besar resikonya, bencana harus dihubungkan dengan hal kerentanan apapun yang berada dalam kehidupan normal masyarakat.

Dengan mencari hubungan antara resiko bencana yang dihadapi oleh masyarakat dan alasan mengapa masyarakat berada di daerah yang berpotensi bahaya kita dapat mendapatkan pola sosial dalam masyarakat. Menganalisa bencana dengan cara mencaritahu pola sosial  akan memberikan manfaat yang lebih jauh dalam kebijakan pembangunan yang dapat membantu mengurangi bencana dan memindahkan bahaya, sementara tetap meningkatkan standard dan kesempatan hidup masyarakat.

Masyarakat Indonesia seharusnya kini lebih mengerti akan bahaya bencana dan cara mengantisipasinya. Baik di kalangan birokrat, praktisi, maupun sipil sama sama harus mengerti akan pentingnya mitigasi bencana dalam skala nasional karena memang akar permasalahan awal adalah terletak dari social power yang dibentuk dari politic policy. 

Semoga dengan tulisan ini sedikit membantu pemahaman tentang disaster. Untuk pembahasan lebih lanjut, tunggu postingan setelahnya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s