Niat dalam Shalat


Sering saya ragu, apalagi jika melihat lingkungan sekitar, apakah niat yang sah dalam sholat itu diucapkan sebelum shalat, ataukah saat shalat, atau tidak perlu diucpakan hanya di dalam hati. Ternyata ada yang merasakan kegalauan yang sama, mari kita simak:

Ada sebagian orang yang mengatakan bahwa niat dalam sholat terucap sewaktu takbir pembukaan (takbiratul ihram). Sementara itu, sebagian lainnya mengatakan bahwa niat diucapkan sebelum takbiratul ihram. Manakah saat yang benar dalam mengucapkan niat itu? Mohon dijelaskan dalilnya dan mazhab yang menganutnya.

Junaidi
Tengerang

Prof. Quraish Shihab menjawab:

Niat adalah kebulatan hati untuk melakukan ibadah guna mendekatkan diri kepada Allah semata. Inilah hakikat niat dan sekaligus di sini terdapat keihlasan. Kebulatan hati ini dapat terpenuhi, walaupun tidak diucapkan. Karena itu, niat tidak harus diucapkan. Disepakati oleh ulama bahwa niat dalam shalat hukumnya wajib, berdasarkan antara lain, firman Allah dalam Al-Quran: Padahal mereka tidak diperintah kecualo beribadah kepada Allah dalam keadaan ikhlas memurnikan ketaatan kepada-Nya,… (Q.S al-Bayyinah [98]:5) da hadits Rasulullah saw. yang sangat populer, “Sesungguhnya sahnya amal adalah adanya niat.” (Ada juga yang memahami sabda Nabi ini dalam arti, ” Sesungguhnya syarat kesempurnaan amal adalah adanya niat”).

Menurut mazhab Hanafi dan Hanbali dan pandangan mayoritas ulama bermahzab Maliki, niat shalat adalah syarat dalam pengertian “tidak termasuk bagian dari shalat”. Smentara itu, dalam mahzab Syafii dan sebagian ulama Maliki, niat shalat wajib terpenuhi dalam shalat, yakni pada awal shalat. Karena itu, mereka menamainya rukun.

Mazhab Abu Hanifah mensyaratkan bersambungnya niat dengan takbiratul ihram. Selain aktivitas berkenaan dengan shalat, tidak boleh ada sesuatu pun yang memisahkan antara niat dan takbir itu. Misalnya makan, minum, dan sebagainya. Kalau yang memisahkannya adalah amalan shalat seperti wudhu, atau berjalan menuju masjid maka masih berlaku, dan yang bersangkutan dapat mengerjakan shalat dengan mengucapkan takbir, meskipun ketika itu dia tidak berniat lagi. Anda lihat bahwa mazhab ini tidak mengharuskan niat bersamaan dengan takbir. Mazhab Hanbali juga mempuyai pandangan serupa di atas. Mereka hanya menggarisbawahi bawa niat itu boleh dilakuan sebelum takbir, asal tidak ada tenggang waktu yang lama antra niat dan takbir.

Mereka beralasan bahwa menyatukan niat dengan takbir merupakan sesuatu yang menyulitkan, sementara Allah berfirman, … Dia (Allah) tidak menjadikan atas kamu dalam urusan agama sedikit pun kesulitan, … (Q.S al-Hajj [22[:78). Mereka juga beralasan bahwa awal shalat adalah bagian dari shalat. Mazhab Maliki mewajibkan orang yang shalat untuk menhadirkan niatnya saat tabiratul ihram, atau sesaat singkat sebelumnya. Sementara itu, para ulama bermazhab Syafii mewajibkan terlaksananya niat bersamaa dengan aktivitas shalat, adalah saat takbiratul ihram. Sebab, yang disebut “niat” adalah maksud hati yang berbarengan dengan aktivitas. Jika maksud itu dihadirkan sebelum aktivitas, maka yang demikian itu bukanlah niat, melainkan azam (tekad). Sementara itu, yang dituntut adalah niat. ini berarti bahwa niat harus bersamaan dengan takbiratul ihram, bukan sebelum nya dan bukan pula sesudahnya. Karena itu, menurut pendapat sebagian ulama mazhab ini, jika seseorang melaksanaan shalat dengan mengucapkan niat, “Saya berniat shalat, Allahu Akbar, saya berniat”, maka ucapan “saya berniat” yang kedua ini membatalkan shalatnya, karena yang demikian ini adalah yang tidak dibenarkan dalam shalat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s