Kewajiban Belajar


Bismillahirrahmanirahim.

Allhamdulillah bisa nulis lagi, bisa berpikir lagi di fajar pagi. Mungkin ini merupakan terapi yang baik.

Saya telah belajar agama dari sejak kecil. Mengaji membaca Al-Quran, mengaji belajar nahwu sharaf (membaca arab dengan grammar & tenses nya), aqidah akhlak, dan nurul yaqin. Sejak saya kelas 1 SD saya sudah diperintah untuk pelajari itu semua. Jauh sebelum anak-anak seumuran saya belajar itu, kadang saya pun iri kenapa saya harus diwajibkan blajar ini itu padahal temen-temen semua masih pada asik bermain, bayangkan anak kelas 1 SD. Bahkan kelas 2 SD saya dikirim untuk pendidikan pesantren di Kudus, pesantren yang memang lulusannya menjadi hafidz hafal 30 juz. Namun saya gagal karena tidak betah. Ga ada yang lebih ga santai dari keluarga ini dalam nyuruh belajar agama, keluh saya.  Ya, itu karena keluarga saya , apabila boleh saya nilai, termasuk ke dalam keluarga ‘religus’. Terutama ibu.

Sebenarnya awalnya tidak begitu, karena kami bukan berasal dari keturunan alim ulama, mungkin iya untuk bapak, karena beliau merupakan putra dari salah satu pemimpin agama terkemuka di Jember dulu. Namun ini pun saya pikir bukan menjadi penyebab kami religius. Ibu berasal dari keluarga tuan tanah jaman penjajahan Belanda namun karena ‘kurang pintar’, katanya, tertipu dan kemudian bangkrut dan mendadak miskin hingga keturunan-keturunannya. Ibu sama sekali tidak ada darah alim ulama.

Jadi mengapa bisa religius? Ya, semua berubah saat kami ke Bandung dan bertemu tetangga yang kebetulan putri dari ulama besar di Jepara, bu Chusnul Khotimah. Apabila dirunut beliau masih saudara dengan mentri agama saat itu, Said Agil, dan saudara jauh dengan Ayahnya Gusdur. Ya, beliau adalah sayyidah yaitu istilah yang biasa digunakan untuk menyebut keturunan langsung Nabi Muhammad SAW. Bukan asal nasabnya yang saya segani, karena jaman sekarang banyak sayyid & sayyidah yang moralnya bablas juga, tapi memang karena apa yang dibawa merupakan kebenaran. Islam yang damai, Islam yang menarik dari hati, merasakan adanya kecocokan ajaran islam dengan hati. Alhasil, ibu saya berubah dan sangat menghormati alim ulama hingga saat ini. Saya yakin, apabila ada 2 tamu datang ke rumah, satu Pa SBY dan satu lagi saudara bu Chusnul pasti yang dilayani dengan first class services saudara bu Chusnul.

Subhanallah sekali memang pelayanan yang diberikan ibu saya sampai-sampai anak-anaknya yang kesel karena sering disuruh ini itu untuk menghasilkan pelayanan terbaik. Sempat terpikir oleh saya, nanti ibu pasti masuk surga karena layanan terbaiknya dalam menjamu tamu-tamu Allah. Wallahu bishawab.

 

Kemarin saya membaca buku Prof. Quraish Shihab yang membahas mengenai pertanyaan-pertanyaan umat. “1001 Soal Keislaman yang Patut Anda Ketahui”. Memang dalam islam mewajibkan umatnya untuk belajar, tidak hanya ilmu duniawi, tapi juga ukhrawi. Maka dari itu, saya yang sedang galau merasa sangat membutuhkan untuk belajar, di hati teucap, “Ayo, jangan sampai timpang ilmu kuliah ama ilmu agamanya, jangan ampe kaya gunung dan pantai”. Ada beberapa pertanyaan yang dari dahulu masuk dalam benak, saya tahu jawabannya namun alasannya kurang kuat dan sekarang saya menjadi lebih tenang karena adanya alasan mendasar dari Prof. Quraish. Pembahasannya saya buat di postingan yang berbeda.

Belajar agama bareng yu :’) ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s