Penantang Muda dan Guru Zen


Pernahkah kamu mendengar cerita tentang penantang muda dan guru Zen? cerita tersebut menggambarkan tentang kemampuan yaag tidak sekedar skill. Kalau belum, mungkin sedikit saya ceritakan.

 Terdapat seorang pemuda, dia pandai sekali dalam memanah. Mata panah dia mainkan, target selalu didapatkan tepat sasaran. Setiap orang diantaranya selalu ditantangnya dalam memanah, dia selalu menang. Tidak ada yang melebihi ketangkasan dia dalam memanah. Masyarakat mengaguminya akan ketepatan panahnya.

 Setelah sekian lama, dia mendengar tentang guru Zen dengan ketangguhannya dalam memanah. Karena kehebatan Zen tersebut dia mendapatkan gelar guru. Pemuda itu pun segera mencari guru Zen tidak sabar untuk menantangnya dalam memanah. Bertemulah pemuda dengan guru Zen di sebuah gunung pedalaman.

 Tidak sabar lagi, pemuda langsung meminta duel panah. Pemuda itu segera mencari target panahnya, anak panah terhempaskan kemudian dilepaskan kembali anak panah kedua dan tepat membelah anak panah sebelumnya. Pemuda berkata, ” Tengoklah, anak panahku terbelah dua tidak tersisa. ” Apakah engkau bisa menandingi hasil panahku ? “. Guru Zen tetap diam dalam sikapnya dan membawa pemuda itu naik ke suatu tempat. Naik beberapa bukit dari tempat semula guru Zen membawa pemuda ke tebing dimana terdapat jembatan panjang yang terbuat dari kayu yang sudah rapuh. Jembatan itu  menghubungkan dua bukit dengan angin yang sangat kencang menghembus kedua sisi jembatan tersebut.

Guru Zen melangkah ketengah jembatan, tanpa berpikir lama guru mencari target dan segera melepaskan anak panah yang tepat mengenai buah di pohon. Kini giliran pemuda itu. Pemuda bergetar melihat adanya jembatan reot itu, jangankan untuk menarik busur dan anak panahnya,  untuk melangkah pun serasa sangat berat dilakukannya. “Kamu mempunyai banyak keterampilan dengan busurmu“, kata guru Zen , “Namun kamu hanya mempunyai sedikit keterampilan dengan akal budimu”. Pemuda itu gemetaran dan menangis.

 Apakah makna dari cerita tersebut? Secara singkat, keterampilan apabila tidak dibarengi dengan akal budi yang kuat akan berbuah kesia-siaan. Diperlukan keselarasan dan kesatupaduan antara keterampilan dan akhlak. Boleh saja kita memiliki segudang keterampilan dalam diri kita namun apabika tidak menyatu dengan akal budi, keterampilan itu tidak lebih sekedar “alat dalam diri kita” (a mean in our life), bukannya “bagian dari diri kita” (a part of our life).

Semoga kita dapat mengambil hikmah di setiap episode kehidupan kita. Selalu menghayati hidupnya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s