Salah satu episode hidup, i called it love


Sebuah prolog

Gaungan tadarus sebelum adzan subuh bersahutan di luar sana, saling bersahutan seakan berbicara bersekongkol untuk menunggu datangnya adzan dengan mengalunkan ayat suci. Gerimis pun menyamarkan gelombang suara yang masuk melalui gorden biru kamarku, kamar yang hanya diterangi oleh lampu belajar dan ditemani dengan kertas dan pensil pentel. Track pun kemudian ikut berkonsolidasi memposisikan dirinya menuju bait ;

Allah Engkau dekat
penuh kasih sayang, tak pernah biarkan hambamu menangis,
karena kemurahanMu karena kasihsayangMu.
hanya bila dirimu ingin nyatakan cinta, pada jiwa jiwa yang rela yang memberi segala.

Allah rahmaan, Allah rahiim..

sehari telah berlalu, perasaan masih ada. sungguh cengeng.
..please dont make it hards. benar, ini mungkin pembelajaran hidup pembelajaran yang besar, mungkin lebih dari itu.  bukankah engkau yang memerintahkan rabb, engkau yang memerintahkan untuk berusaha..usaha lah agar kamu senang, agar kamu mendapatkan apa yang kau inginkan…
aku telah berusaha, aku berusaha .. iya kan
aku percaya kau melihatku, kau melihatku lebih dari sekedar menatap kau menerawang dan meraba hati. kau pasti melihat bagaimana aku mencoba dan bersabar.

walaupun sering, tetap terasa sakit.

Syukuri apa yang ada. Sangat banyak hal yang aku ingin lakukan selagi umurku ada. Terlalu banyak hembusan udara yang aku keluarkan, namun baru sedikit yang aku dapat. Aku tak tahu apa yang harus aku bawa untuk bekal nanti, perbekalan 1000 tahun setelah 63 tahun fana. aku belum mempersiapkan itu, apakah akan cukup, aku hanya mempersiapkan dalam 1/16 massa. bagaimana bila aku kehabisan pada saat menunggu berakhirnya massa kelak, bagaimana apabila bekal nanti aku bagi-bagikan seadanya untuk sekitar dan tiba-tiba habis.

Gerimis

Gerimis

terlalu banyak hembusan udara yang aku keluarkan, tidak sebanyak yang aku rencanakan untuk menyambut putra,putri dan istriku. apa yang aku berikan nanti, apa yang akan aku bawa saat aku pulang disambut mereka.

Sembilan tahun. saat umurku mencapai kata itu, orangtuaku sesekali berucap,  ‘Dik, Cita tidak akan datang dengan sendiri, ini bukan surga. Kamu harus Mengejar dan Berusaha. Itu lah tugas manusia’ gumaman seorang ibu yang apatah wajarnya. Seorang ibu yang menasehati putranya selayaknya orang dewasa yang meneriaki bocah di pasar serbaguna, tidak asing. ya, tidak asing namun tetap ada di benakku hingga menangis dinote ini.
Aku percaya dengan ibuku, aku sependapat dengannya tentang ini, hidup adalah medan perang, medan untuk Mengejar dan Berusaha. Outputnya bervariasi, dari manisnya keberhasilan berorasi depan massa kampus hingga asemnya ditolak cinta, mm..sangat variatif.

Dua puluh tahun, bukan massa yang sedikit untuk dilalui. Usaha dan Hasil usaha sudah banyak yang dilalui, output yang bermacam-macam merupakan hasil dan juga awal. hasil yaitu hasil yang diperoleh atas usaha besar yang diperjuangkan dan awal yaitu awal evaluasi tahap selanjutnya.’Manusia ko gagal dalam segalanya’ , teringat kembali kutipan kata ibu Siti Nurhaini, ‘ Gagal dalam studi jangan gagal dalam jodoh’. *Bu, mungkin kat-kata ini belum cocok sekarang dengan saya ya bu..hhi*  bermacam-macam hasil bukan berarti baik atau buruk semua, kali ini hasil yang aku dapat adalah awal.
Bangun bung, Dua-puluh-tahun bukan saatnya untuk bermain hati, masa depan ada di keningmu, tidak jauh relatif dekat. relatif; kamu dapat membuat itu sendiri semakin dekat atau sebaliknya. Aku ingin menjadi seorang scientist-layaknya Mc Carvey dalam Volcano, atau Mr. Greigs dalam The day afrer Tomorrow, menolong banyak manusia menyampaikan informasi yang bermanfaat dan sangat penting, berbicara di depan kesekjenan PBB. Aku ingin menjadi pengusaha, pengusaha minyak-energi seperti Arifin Panigoro, pengusaha batik pekalongan mirip Ari Muladi, pengusaha Tahu-Pisang percis tukang gehu samping rumah. Aku ingin menjadi se-orangbaik yang akan mendapatkan se-orangbaik pula. Aku ingin menjadi suami yang menjaga, mengasihi, menyayangi seorang istri, bersama maju merintangi ujian kehidupan di medan perang. Seorang ayah yang dapat membimbing maju putra putrinya, membimbing masa depan menembus dunia menjadi pembimbing tur akhirat.

Penentuan pilihan bukan lagi sesuatu yang harus ditunda kini, persimpangan jalan sedang ada dihapanmu kawan. Tentukan pilihan dan Maju, Ayo Belajar Sama-sama !


*sedikit Epilog

Oia ya Allah, berdoa bisa dalam metode apa aja kan, menulis pun berdoa.
Tujuan saya tetap satu ko Tuhan,
‘Menjadi Manusia yang Bermanfaat bagi yang Lain’
hanya satu, dan memang ini tujuan awalku mendekati dia.
ok lah, i know ..saya terlalu bejat untuk diaa..tapi kasih arahan dong ! hheu
so, nothing to worry.
Go Boys! Fuih..sungguh indah hidup ini :]

dini hari, 03.12 Sabtu 19 Juni
Bersama lampu duduk kuning, bisikan gerimis fajar dan ditemani mas Opick, kk Dmasive, atlet TakeOff, dan Santai Saja-SaintLoco

3 thoughts on “Salah satu episode hidup, i called it love

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s