Aku tidak bisa menulis lagi


Tinta tidak kering, hanya saja pikiranku

Tinta tidak kering, hanya saja pikiranku

Sering kali aku diam sejenak untuk memikirkan apa yang harus diperbuat untuk langkah selanjutnya dan terdiam. Lingkungan terasa mendukung untuk mendistribusikan saraf pikiran tersebar dan tak merata, pikiran buntu tidak terabadikan. setiap kali berusaha untuk mencurahkan dan menarik kembali saraf, ketika itu pula lingkungan selalu mengutuk untuk menjadi patung liberti cantik. Fuih, mengapa tidak bisa menuliskan diri sendiri.

Aku ingin menuliskan pikiran ku kembali, aku ingin memproyeksikanyya, memetakan *sama seperti tujuan diawal* sehingga saudaraku , adikku, atau anakku kelak akan melihatnya.

Bukan untuk tujuan yang muluk, aneh atau terlalu tinggi, hanya sekedar untuk pembelajaran di masa yang akan datang. aku tidak ingin anakku merasa kepedihan saat ditinggalkan orangtua dirasakannya sendiri, aku tidak ingin putraku merasa kesulitan yang dihadipnya saat ujian masuk sekolah tinggi dipanggulnya sendiri, aku tidak ingin putriku merasa sedih saat ayahnya tidak ada untuk membacakan Cerita Perang Badar sebelum tidur.

Tidak muluk, yang aku inginkan hanya satu, pembelajaran. Dengan aku menuliskan kehidupan, semua akan tergambar jelas bagaimana aku melewati tahap demi tahap perjalanan, step demi step ujian, episode demi eposide season kehidupan. Aku ingin, anakku, putraku, dan putriku tahu, Ayah dulu pun merasakan itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s