Pemuda Melihat Pagi


tatap untuk bangsaku

tatap untuk bangsaku

Malam banyak sekali yang diperbuat, belajar sampai jam 00.00, untuk menjebol UAN 6 pelajaran. Waktu kosong di sekolah digunakan untuk review pelajaran sebelum-sebelumnya, pulang sekolah berkumpul dengan teman diskusi membahas soal- soal yang tidak dimengerti. Itu pun tentu belum cukup untuk menembus 6 pelajaran tersebut.

Lembaran kertas terlihat di meja teman- teman sekelasku,

“Randi Ramadhani

3 ipa 6/ 37

Fisika LISTRIK STATIS”,

ulangan fisika dibagikan. Bukan tidak sabar tapi saya lebih tidak berniat untuk melihat ulanganku. Saya duduk terdiam membayangkan indahnya dunia dengan segala isinya apabila kita tidak perlu bersusah payah belajar pelajaran yang tidak kita sukai.

“Dim, berapa ulangan? Pasti ga remed ya..”

Terlalu malas untuk menjawab pertanyaan itu, aku pun diam saja. Aku mengambil nafas panjang, dengan masih membayangkan keindahan dunia,  tiba- tiba selembar kertas penuh coretan dibelakangnya sudah ada di depan mejaku.

Perasaan penasaranku yang menggejolak membuat diriku spontan untuk membaliknya. Seperti yang saya duga, nilai fisika saya 43. Bukan merupakan suatu keanehan mendapat nilai itu.

Malam sebelum ulangan tersebut,  jam kamar di dinding ruang tengah menunjukan angka 11. Masih banyak yang belum dikerjakan, sepulang sekolah tadi, aku bermain sepak bola, sholat maghrib, makan dan tertidur sejenak.

Tak terasa pukul 11.34. Cape terasa, tapi perasaan itu harus dihapuskan dengan

kebanggaan memiliki nilai 100 fisika LISTRIK STATIS. Handphone berdering, bingung siapa yang menelepon, ternyata itu bukan sebuah panggilan tapi alarm yang menunjukan pukul 4.00

“fuih ….”

Hidup di masa ini pasti terasa lebih berat ketimbang zaman dahulu.

Pemuda mengapa kita harus menanggung beban yang berat seperti ini, mengapa generasi baru harus membersihkan sisa-sisa kedzaliman kaum pendahulu.

Saya harus bangkit, ini bukan tantangan yang besar. Fisika, biologi, kimia, matematika bukanlah rintangan yang berat.

Terlintas Soekarno, Pangeran Dipenogoro, Patimura, mereka membela negeri ini sejak seumuranku.

Aku terlihat seperti seseorang yang menjunjung tinggi ke-idealisme-an.

“Bulshit dengan idealisme!”, kata-kata yang terlepas spontan sepersekian detik ketika terbayang kata “idealisme”.

Aku tidak mengaharapkan nilai yang baik pada ulanganku saat ini, dengan cara belajar busway, sekali pandang  sekalli lewat  sekali ingat, ini tak akan berhasil.

Berpikir tidak ada hal yang terlambat, maka aku pun pergi ke sekolah sambil mengulang pelajaran dari awal kembali dengan niat yang berbeda, dan tujuan yang berbeda.

Melihat ke arah belakang, aku selalu berpikir apa saja yang telah aku perbuat. Mengeluh tentang keberadaan bumi dan mengeluh karena kesalahan orang lain yang sebenarnya merupakan kesalahanku. Nilai yang buruk merupakan kesalahan saya yang telah lalu,

“Aku adalah Dimas dan Dimas tidak akan menyerah dengan kegagalan seperti ini!”

Pemuda, bukan hasil yang buruk  yang kita inginkan, berusaha sekuat mungkin menghadapi segala cobaan. Hasil buruk bukanlah keinginan kita. Teriaku dalam hati, “Maju Dimas, maju…. maju… maju pemuda!”

5 thoughts on “Pemuda Melihat Pagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s