Everything has their beginning

Hari minggu kemarin tidak seperti hari minggu biasanya. Minggu ini kami sekeluarga pergi meminang calon putri baru untuk menjadi keluarga kami. Kami pun tidak datang hanya berlima namun diiringi saudara dekat dan jauh yang dengan ikhlasnya mengantar ke rumah tujuan. Iring-iringan kurang lebih 7 mobil kurang lebih dilatarbelakangi hujan yang selalu setia turun, syahdu.

Bicara pengalaman, pengajian akbar? kita selalu lakukan, udah biasa, panitia kurban? uda pengalaman, setiap taun khatam, menjadi ketua syukuran nikahan? sering, setiap bulan kawin pasti lakuin, melamar anak orang? ini belum pernah kita lakukan. Sewajarnya pengalaman pertama, kita semua gugup dalam melakukan ini. Saya melihat kedua orang tua saya tegang setiap detiknya menuju rumah calon besannya. Apalagi kaka saya yang punya hajat pasti lebih tegang lagi. Saya sih cuman senyam senyum sembari memantau gimana jalannya proses seserahan ini. Karena keluarga kami merupakan pihak laki-laki (dan akan selalu begitu), maka kami yang harus mendatangi dan memulai pembicaraan.

Calon wanita yang berasal dari suku Sunda ternyata sudah sangat ramai di rumahnya. Sanak saudara dari berbegai penjuru sudah berkumpul, tenda di rumah sudah dipasang lengkap dengan prasamanannya. Yang menarik adalah, saya suka di adat Sunda yang ramah dan sopan dalam menjamu tamunya dengan tentunya bahasa santunnya. Walau tidak seperti adat betawi yang diawali adu pantun, kemarin pun ada pantun, walau sedikit garing kriuk kriuk.  Hehe.  Singkat cerita, rangkaian seserahan lancar dan hikmat dilaksanakan.  Keluarga calon wanita memang keluarga yang besar. Saat kami salam dan saling memperkenalkan diri antar 2 keluarga, wah, banyak banget keluarganya. Dari mulai dokter, hakim sampai dirut tvri ada.

Apapun itu, ini pengalaman bagi kami. Dan yang paling berkesan, kami bisa kumpul bersama lagi dalam suasana hangat kekeluargaan. Allhamdulillah.

DSCF9477